Phone Message

Posted: Juli 2, 2012 in cerbung
Tag:, , ,

Subtittle: Pusara Itu

Setiap kenangan biarlah berlalu. Mencoba untuk mengerti dan  memberi  warna baru dalam hidup itu perlu. Ingin pergi bersama pelangi?,  eum… cukup indah. Ingin seperti rembulan? Mungkin. Tetapi hidup lebih sempurna jika kita mampu menjadi diri sendiri. Mempelajari segala kehidupan yang kita miliki.

Persahabatan dan kasih sayang, dari mana kita bisa mendapatkannya jika bukan dari diri kita sendiri? Kita menatap langit terlihat mendung. Itulah diri kita, lebih suka menutup dari pada terbuka. Setiap hati selalu memiliki air mata. Mungkin diantara kalian belum bisa mengerti apa yang aku maksud. Aku sendiri masih mencoba untuk mempelajari semua ini. Aku yang berdiri dengan kesendirian. Menatap langit malam. Rembulan memancarkan sesosok yang aku inginkan. Egoku masih belum bisa aku rubah. Bagaimana bisa aku menjadi seseorang yang begitu munafik sedangkan aku sendiri menyuruhnya untuk mengerti hidupnya?

“Vi, tak usah kau memikirkan sesuatu yang tak seharusnya kau pikirkan!” suara laki-laki menyadarkanku dari segala pikiran-pikiran yang ada di dalam otakku.

“Bagaimana hidupmu malam ini?” Tanya seseorang dari belakangku. Tatapannya begitu cemas.

“Kemana kamu akan terus sembunyi Vio??” kali ini kakakku yang bertanya. Seakan mereka seperti menangkap anak tikus yang lalu lalang.

“Jangan kau hapus kenangannya jika memang kau tak bisa.” Suara terakhir yang aku dengar. Membuat hatiku tercekat. Miris mendengar kalimat itu. Mereka lantas berjalan menghampiriku dan satu persatu duduk di sampingku.

“Kak Rey, kak Seta, kak Reza, Radit?” panggilku kepada mereka satu persatu. “Hhhhh…..” Aku menghela nafas sejenak. ”Kedinginan malam tidak akan mampu merobek kulitku. Meski hatiku menatapnya lara, tetapi jiwaku sungguh telah menghilang. Terkubur bersama kenangan dan jasadnya. Puluhan bunga bela sungkawa aku dapatkan dari teman dan kerabat. Melihat nisan yang berdiri kokoh ini, ingin sekali aku mematahkannya. Membawa ia kembali ke sisi kita. Pilihannya sungguh bodoh. Akankah aku menerima semua ini? Tubuhku mati rasa karenanya.” Ucapku lirih penuh dengan rasa bersalah.

“Biarkan dia mencari hidupnya disana. Jangan kau sesali semua ini.” Kak Rey mencoba memberikan penjelasan kepadaku.

“Biarkan semua ini berlalu dengan kisah yang baru Vio.” Tambah kak Reza, mukanya terlihat khawatir. Mungkin karena keadaanku yang seperti ini.

“Kalian tidak akan pernah mengerti semua ini. Penyangkalan apa yang dapat kalian katakan?  Untuk membangun sebuah jiwa yang damai saja kalian tak mampu. Bagaimana kalian bisa mengatakan semua itu?” rasa sakit yang kumiliki semakin terasa sakit. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku ikut dengannya?

“Memang! kami memang bukan manusia sempurna dan kami juga bukan malaikat yang tidak memiliki hasrat atau nafsu. Akan tetapi seburuk-buruknya manusia, kami masih memiliki rasa. Kami semua ingin kau berdiri. Menjauh dari segala keterpurukan. Kami bukan belati yang suatu saat berusaha menusukmu. Kami ini temanmu. Kami masih ada disampingmu. Meskipun semua ini menyedihkan tapi kami yakin kau dapat mengangkat semua kesedihan ini.” Sangkal Radit. Membuat hatiku sedikit berfikir.

“Kami datang untuk menjemputmu. Mengajakmu mengambil lembaran baru dalam hidup. Mengajakmu mencoba untuk menorehkan sebuah senyuman yang sempat hilang. Ayolah!! Vio, ini bukan akhir. Kau masih bertanggung jawab kepada kami. Kau yang telah membuat kami menyayangimu sampai seperti ini. Jangan kau musnahkan kami bersama jasad Key yang kau ratapi. Key masih punya hidup disana. Dan kau masih punya hidup disini, bersama kami.” Ajak kak Seta dengan nada yang, menurutku adalah sebuah nada permohonan.

Memang benar, hidupku masih panjang. Haruskah aku tetap terpaku disini meratapi segala kehancuran? Itu bukan diriku. Aku memang menyesali kepergiannya. Tapi satu masa yang tak akan mampu aku rubah jika Key memang sudah pergi. Mencari dunia barunya di alam sana. Aku hanya akan membuang tenaga untuk mengenangnya. Mengenangnya membuatku sakit. Melupakannya pun juga demikian. Apa yang semestisa aku lakukan? Bagaimana aku menjalankan semua ini. Segalanya terasa berat tanpa dirinya. Senyumku usai dengan kepergiannya. Akan tetapi haruskah aku seperti ini terus? Sedangkan di sampingku ada empat orang laki-laki yang menginginkan aku kembali. Atau setidaknya aku mencoba? Oh Key… mangapa kau meninggalkanku dengan segala kepedihan ini? Aku sudah tidak kuat membendung segala hasrat yang kumiliki. Rinduku padamu terlalu besar.

“Vio??” Radit menepuk pundakku dengan pelan.

“Baiklah!!!” paksaku menyetujui.

***

FlashBack…

Sesosok gadis, terbujur kaku di dalam sebuah ruang ICU rumah sakit. Matanya tertutup. Wajahnya pucat, lemas tak berdaya. Infus tertancap sempurna di tangan kanannya.

“Bagaimana dok?? Kami akan lakukan apapun itu, asal Vio dapat membuka kembali matanya. Apapun!” ucap Reza.

“Seperti yang saya katakan kemarin, kita harus segera melakukan operasi, dan mencari donor yang cocok.” Reza terpukul dengan segala sesuatu yang ada dalam hidupnya saat ini. Disisi lain, keempat sahabatnya sedang bercemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Aku harus bagaimana lagi Vio?”

Beberapa hari kemudian…

“Kak Reza???” Ucap Vio. Hari ini Vio sedikit ada perkembangan. Dia mulai sadarkan diri. “Bolehkah aku menghubungi Key?”

“T-tap” melihat nada memohon dari adiknya, akhirnya Reza memperbolehkan. “Baiklah, hanya untuk kali ini.”

Demi adiknya, Reza rela membuang segala ego yang ia miliki. Seberapa besar ia membenci Key, ia harus menghilangkan semua kebencian itu. Reza tak ingin semua ini akan berdampak buruk pada keadaan Vio. Sister complex itu bukan lagi menu utama. Sebuah senyuman ia sunggingkan agar adik tercintanya itu senang. Reza memberikan sebuah Hp kepada Vio dan diterima baik olehnya. Lantas Vio mengirim pesan kepada Key.

To: Key kuncikunci

Hai, indahkah hari ini?

From: Key kuncikunci

Vio?? Eum…

Indah, akan tetapi tak seindah rembulan yang ada disana

To: Key kuncikunci

Benarkah! Akankah malam ini berakhir?

From: Key kuncikunci

Mungkin, jika hatimu terjaga selalu.

Andaikan saja aku bisa memelukmu tuk terakhir kali ini saja.

To: Key kuncikunci

Tak bisa,

Semua ini terlalu nyata untuk dikatakan.

Kenapa kamu tak kemari? Aku ingin itu.

From: Key kuncikunci

Itu tak akan pernah terjadi,

Janji adalah janji, setiap perkataan laki-laki harus dapat di pegang.

Seberapa rinduku padamu? Bahkan melebihi cahaya rembulan ini.

To: Key kuncikunci

Tak bisakah kau melihatku tuk sejenak?

Aku tahu, semua itu.

Tapi, biarlah aku melihatmu dalam mimpiku setiap malam.

From: Key kuncikunci

Semua malaikat selalu melindungimu, dengan atau tanpa diriku.

Kau tahu, setiap saat dan setiap waktu aku selalu melihatmu dari kejauhan.

Kau harus ingat itu, seberapa jauhnya aku, aku selalu ada disisimu.

Aku akan selalu datang dalam mimpimu setiap malam.

Bukankah kau akan operasi? Lakukanlah!

Aku akan mendukungmu dimanapun itu.

To: Key kuncikunci

^^ senyuman ini selalu untukmu.

Jangan khawatir, aku akan melakukannya. Demi dirimu. J

From: Key kuncikunci

Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Dan satu lagi, ingatlah pesanku ini dengan baik.

Jangan pernah dirimu menangisiku barang sekecilpun.

Jangan pernah menyesal dengan semua hal yang ada.

Kau tahu, cintaku selalu disisimu. Selalu ada di dalam jiwamu.

To: Key kuncikunci

Apa maksudmu?

From: Key kuncikunci

Keindahan akan selalu hadir, dimanapun itu.

Kenangan tak akan pernah terganti, meski kau melupakannya.

Cintaku akan selalu di hatimu, meski aku tiada di sisimu.

End FlashBack

“Jika saja kau tak melakukannya Key, mungkin kau masih disisiku.” Rutuk Vio sembari meninggalkan pusara Key.

“Ayo Vio,…” ucap Radit.

***

“Maafkan saya tuan, sangat di sayangkan kami tidak bisa menyelamatkan jiwa Key.”

“Aku sangat berterima kasih Key, karna kau telah rela meninggalkan adikku tanpa aku harus ikut campur tangan.” Senyum Seta

Cring…. Siapa ini??

From:0879xxxxxxx

Jangan kau fikir aku akan meninggalkan Vio dengan semudah itu Seta!!!

“Apa ini??” Seta kaget dengan pesan yang baru saja ia terima. Dia berbalik menghadap pusara Key. “Jika memang ini benar, aku belum kalah Key!”

Disisi lain ada seorang laki-laki ditemani seorang wanita mengawasi Vio dari kejauhan.

“Jangan menangis Vio, itu sangatmenyakitkan.” Gumamnya

“Apa kau yakin dengan yang kau lakuakan???” tanya wanita di sampingnya.

“Aku sangat yakin kak, demi Vio.”

 

——to be contiuned——

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s