Satu Malam Terindah

Posted: Juni 26, 2012 in cerpen

Aku termenung menatapi gemerlap cahaya bintang. Hatiku tersemat satu nama terindah yang selalu mendampingiku meski raganya tak pernah berada disisiku, namun jiwanya selalu ada di setiap langkahku. Memori kenangan-kenangan indah tak mampu kuhapus meski 3 tahun telah berlalu. Bagaimana mungkin aku mampu menggantikan dirinya yang telah mencuri ujung hatiku ini? Aku ingin bersamanya disaat ragaku sudah tak berdaya seperti ini. Tuhan izinkanlah aku pergi. Semua ini bagai ujung tombak yang telah tumpul. Biarkanlah aku bersamanya kembali.

Hanya tetesan air mata dan rintihan sakit yang kini aku rasakan. Bagaimanapun ini, hanya satu semangatku untuk tetap hidup. Hanya untuk kakak tercintaku. Dialah yang ada disisiku, yang setiap malam menemaniku di tengah keramaian jantung kota Semarang. Simpang Lima, tempat yang penuh keramaian hilir mudik, lalu lalang para remaja sepeti diriku. Aku senang ketempat ini. Tempat yang penuh kenangan. Aku disini, menunggu sesosok wanita yang sangat kurindukan akan kedatangannya. Terlentang di atas rerumputan sembari menatap langit yang penuh cahaya ini. Sangat terasa hembusan angin menusuk-nusuk tubuhku yang semakin lama semakin lemah seperti ini.

“Hei, sedang apa?” tiba-tiba suara yang sangat aku rindukan memecahkan lamunnanku. Kakakku, datang dan ikut berbaring di sampingku.

“Kak Lita?” aku menoleh menatapnya.

“Jangan menatap kakak seperti itu!”

“Hhmm…” hanya sebaris senyum yang dapat kuberikan kepadanya. “Gimana kuliah kakak? Saran Dika, lebih baik kakak ambil kuliah pagi saja. Dika kasihan lihat kakak jam segini baru pulang.” Hanya sebuah senyum simpul yang kudapat.

“Dika ngga usah mikirin kakak, lebih baik kamu pikirin sekolah supaya pinter dan bisa bahagiain kakak. Jadi kakak ngga sia-sia setiap hari kerja buat sekolahin kamu. Ngomong-ngomong, gimana keadaan kamu sekarang? Obatnya sudah diminum belum?”

“Sudah, tadi sebelum kesini aku sudah minum obat. Tapikan kak-?”

“Ngga usah tapi-tapian!” potong kak Lita. “Lagi pula, kerjaan kakak di kantor peninggalan papa ngga berat-berat amat. Masih ada om Yuda yang bantuin kakak.”

Apa yang bisa aku lakukan? Aku tak bisa sekalipun mencegah kak Lita. Jika kak Lita bilang A ya harus A. Namun wanita mungil inilah yang mampu memberiku warna hidup selain Viona. Dan kedua sosok wanita inilah yang telah mengisi hidupku selama ini.

***

Apa yang dapat aku perbuat untuk membahagiakannya? Aku sangat ingin memberikan satu hari yang terindah untuknya. Dika adik kecilku, mengapa dirimu harus mengalami cobaan seperti ini? Jika boleh meminta kepada Tuhan, aku ingin sekali menggantikannya. Biarkan penyakit tumor itu aku yang  merasakan.

1 tahun yang lalu

“Apa maksud dokter?”

“Begini mbak, sangat disesalkan saya harus menyampaikan kabar ini kepada mbak. Jadi dari hasil diagnose kami para tim dokter menyimpulkan jika adik anda Dika mengidam tumor otak stadium 4. Dan kemungkinan besar waktu Dika untuk bertahan tidak akan lama.”

“Apa Dika bisa disembuhkan dok? Saya akan bayar berapapun itu asalkan adik saya bisa sembuh.”

“sekali lagi saya mohon maaf, untuk hal itu saya tidak bisa menjawab karena hidup mati seseorang hanya ada ditangan Allah pencipta alam. Akan tetapi setiap usaha pasti ada jalan. Kami menyarankan agar adik mbak mengikuti pengobatan kemoterapi. Mungkin dengan itu mampu sedikit menghambat keganasan dari penyakit tumor adik anda.”

“Apakah dokter yakin ini berhasil?”

“insya allah, Allah akan selalu ada disisi kita.”

“baiklah dok.”

Dari balik pintu ruang dokter, Dika mendengar semua pembicaraan antara kakaknya dengan dokter tersebut. Haruskah dia menangis dengan kenyataan ini ataukah dia harus senang? Itu pertanyaan yang sulit baginya. Ia sedih karena jika dia suatu saat tidak ada lagi di dunia ini, bagaimana dengan nasib kakaknya kelak? Bagaimana dengan bisa dia membiarkan kakaknya hidup sendirian? Disisi lain dia senang jika dia mampu menyusul kekasih hatinya yang telah dulu pergi menghadap Allah. Viona, kekasih yang ia telah terpaku dalam hatinya, meninggalkannya dengan cukup tragis. Viona meninggal akibat tabrak lari saat dia dan Dika sedang jalan-jalan di kampong pecinan guna observasi karya tulis tentang masyarakat Tionghoa di Semarang. Viona meninggal pada saat itu juga, sedangkan Dika masih shock dengan kejadian yang menimpa kekasihnya. Rasa penyesalan terkadang bergemelut di dalam hatinya. Mengapa saat itu Viona harus mendorongnya? Sepantasnya dia yang tertabak mobil, bukan Viona.

***

“Aarrgh…” tiba-tiba Dika mengerang kesakitan sembari memegangi kepalanya.

“Dika?? Kamu kenapa Dik?”

“Kepalaku, kepalaku sakit sekali kak! Dika ngga kuat!”

“Tahan Dik!, kak Lita bakal ambil mobil sebentar. Kita ke dokter sekarang. Kamu harus kuat, demi kakak!” Lita kebingungan. Dia begitu ketakutan. Dia tidak ingin kehilangan adik semata wayangnya.

“Kamu harus kuat Dik. Kamu harus kuat! Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit.

@ Di Rumah Sakit

“Dokter! Suster! Tolong!!!” beberapa suster dan perawat membantu Lita.

“Aarrgh…. Sakit kak!”

“Kamu harus kuat! Adik kak Lita harus kuat!” nada suara Lita mulai tercekat.

“Maaf mbak, untuk keluarga harap tunggu di luar, biar dokter bisa menangani pasien.” Ucap salah satu perawat mencegah Lita memasuki ruang pemeriksaan. Gemuruh ketakutan begitu menyellimuti hati Lita. Butir air mata mulai berjatuhan dari pelupuknya.

15 Menit kemudian…

Cklek… suara pintu terbuka dan keluarlah seorang dokter.

“Bagaimana keadaan adik saya dok?” Tanya Lita tak sabar ingin mengetahui keadaan adiknya.

“Lebih baik kita bicarakan ini di ruangan saya.” Ajak dokter. “Begini mbak, sepertinya adik anda mengalami koma karena tidak kuat menahan rasa sakit dari tumor yang ia derita dan kami tidak tahu sampai kapan itu akan berlangsung. Lantas saya ingin bertanya kepada anda, apa selama ini adik anda tidak meminum obat yang saya berikan?”

“Hikz,,,” suara tangis mulai menyelimuti ruang itu. “Apa maksud dokter?”

“Saya menyimpulkan adik anda tidak pernah mengkonsumsi satupun obat yang saya berikan tempo hari.”

“Hikz… saya akan mencari tahu tentang itu dok, permisi.”

***

“Saya menyimpulkan adik anda tidak pernah mengkonsumsi satupun obat yang saya berikan tempo hari.”

Kata-kata yang terus terngiang di kepala Lita. Membuatnya berinisiatif untuk mencari tahu dengan sendirinya. Lita menelusuri seluruh pelosok kamar Dika, laci, lemari dan semuanya. Namun dia tidak menukan satupun benda yang dia cari. Akhirnya Lita menyerah dan kemudian duduk di pojok kasur Dika. Tiba-tiba Lita menyadari sesuatu. Di bawah kolong tempat tidur. Lita menemukan sebuah box dan tanpa segan-segan membukanya. Dan apa yang dia dapati? Tumpukan obat-obatan yang dimaksud oleh dokter yang diketahui namanya Rio itu ada di dalam box tersebut. Selain itu Lita juga menemukan sebuah buku diary milik Dika. Tanpa pikir panjang, Lita membolak balik buku diary tersebut dan dia baca satu persatu.

Jurnal 17 maret 2012

Dear dairy,

Ini adalah hari terakhir aku menulis segala isi hatiku di diary ini. Maafkan aku kak Lita, selama ini aku harus berbohong sama kak Lita. Obat-obatan ini, sejujurnya tak ada satupun yang pernah aku sentuh. Entah mengapa, aku lebih percaya kepada Allah. Jika memang aku bisa hidup panjang, aku yakin Allah akan memberikan kehidupan itu. Mungkin juga suatu saat kak Lita akan menemukan diary ini lantas membacanya. Aku yakin itu. Untuk kak Lita, jujur Dika sayang sama kak Lita. Semenjak kepergian papa, mama dan Viona, kak Lita yang selalu jagain Dika. Merawat Dika. Dika harap kakak tetap bahagia apabila suatu saat Dika sudah ngga ada disisi kak Lita lagi. Ya Allah, tolong lindungi kak Lita, untukku.

Dika

“Hikz…hikz…” hanya tangis yang menderai di wajah Lita. Mendapati segala kenyataan yang ada. “Kenapa Dik? Kenapa Dika harus berbohong sama kakak?” sesal Lita dalam hati.

Semenjak hari itu, Dika koma tak sadarkan diri. Setiap hari Lita selalu menengoknya. Menemani Dika siang dan malam. Berharap suatu keajaiban terjadi kepada adiknya. Sesekali juga pernah teman sekolah Dika yang turut serta menjenguk dan menemani Lita menjaga Dika. Waktu berlalu begitu cepat. Lita masih tetap menaruh harapan adiknya sadar dari komanya.

***

1 tahun kemudian…

Kkrriiinnnggg… nana nini… ninini… nana nini…

“Halo!!”

“Selamat siang, apakah ini benar saudari Lita?”

“Iya benar, anda siapa ya?”

“Saya perawat dari rumah sakit tempat adik anda dirawat ingin memberitahukan jika adik anda sudah sadar dari komanya.”

“Benarkah sus??” iya terimakasih.”

Plip! Rasa senang dan haru bembaur menjadi kebahagiaan Lita untuk saat ini. Dengan segera Lita langsung melesat pergi kerumah sakit. Dia tidak sabar ingin melihat adiknya. Lita sangat merindukan adiknya.

“Dika?” ujarnya sesampai di ruang ICU, ruang selama ini Dika di rawat.

“Hmm…” sebuah senyum simpul menghiasi wajah Dika. “kakak??”

“Hikz… hikz… Dika, kakak kangen sama Dika. Kenapa kamu lama sekali komanya?” Lita langsung menghambur untuk memeluk adiknya.

“Dika juga kangen, kakak jangan sedih, karena Dika ngga akan lama disini.”

“Apa maksud kamu?”

“Ajak Dika keluar dari sini, ajak Dika jalan-jalan. Beri Dika satu hari yang terindah sebelum Dika pergi.”

“Tta… tap-“ suara Lita terpotong.

“Dika mohon kak!” tatapan sendu. Membuat Lita tidak mampu menolak permintaan Dika. Dan dengan penjelasan dari Dika, dokterpun ikut mengizinkan.

Hari ini terdapat perayaan akbar di daerah masjid Agung Semarang. Kebudayaan yang diadakan hanya satu tahun sekali. Dug Deran, sebuah tradisi menjelang bulan ramadhan. Tradisi yang masih dilestarikan sejak dahulu. Tradisi ini ditandai dengan adanya Warak Ngendog. Warak ini sebuah simbol terbuat dari beberapa gabungan hewan-hewan. Kepalanya bisa dikatakan kepala naga atau juga kepala kuda sedang lehernya panjang seperti leher jerapah. Warak ini biasanya diarak mengelilingi kota. Sebagai akhir dari acara Dug Deran ini adalah pembacaan tanggal tepat jatuhnya bulan suci Ramadhan yang di sampaikan berdasarkan persetujuan beberapa kyai kepada wali kota. Dan malamnya akan ada pesta kembang api.

Seharian penuh Dika dan Lita bersenang-senang. Tergambar jelas rasa gembira di wajah Dika. Mulai dari acara Pembukaan Dug Deran kota Semarang hingga penutupan pada malam harinya. Tepat di jantung kota Simpang Lima Semarang. Melihat kebahagiaan di wajah Dika membuat Lita merasa turut bahagia meskipun ada sedikit rasa sedih yang masih terombang-ambing dihatinya.

Saat ini Dika dan Lita sedang duduk berdampingan di sebuah bangku taman sembari melihat percikan kembang api di langit. Merenungi semua rasa yang pernah mereka miliki. Sempat beberapa kali terjadi keheningan di antara mereka. Hingga akhirnya Dika angkat bicara untuk memecah keheningan tersebut.

“Kak…”

“Hmmm…”

“Terima kasih.”

“Untuk?”

“Satu malam terindah ini!”

“Apa maksud kamu?”

“Hmmm…” Dika tersenyum masih sambil memandang cahaya langit, begitu pula Lita. “Maaf jika selama ini Dika sudah nyusahin kak Lita. Maaf kalo selama ini Dika sudah bohongin kak Lita. Sekali kali lagi Dika minta maaf.”

“Ngga ada yang perlu dimaafin, Dika ngga pernah salah. Semua ini memang sudah menjadi jalan Allah. Jadi kak Lita maafin Dika.” Gemuruh hati Lita mulai menjadi. Genangan air mata sedikit demi sedikit terlihat di pelupuknya.

“Kak?” seru Dika kembali.

“Iya..”

“Apa boleh Dika minta satu permintaan ke kak Lita?” kali ini Dika menggenggam tangan kiri Lita dengan tangan kanannya dan menyenderkan kepalanya di bahu Lita.

“Permintaan apa itu?”

“Jika suatu saat nanti Dika pergi ninggalin kak Lita, kakak harus hidup lebih baik lagi dari pada sekarang. Kakak janji?”

“Ttapi???”

“Dika mohon…” suara Dika semakin lama terdengar sangat parau.

“Baiklah, kakak janji.” Dengan berat hati, Lita mengucapkan janji kepada adiknya. Sakit! Hati Lita terasa dicabik-cabik oleh belati. Ketakutan akan kehilangan adiknya. Tak sanggup dengan semua kenyataan ini. Matanya terasa panas menahan air mata yang sedari tadi ingin terjatuh.

“Hmmm.. terima kasih kak!” senyum simpul terakhir dari Dika. Perlahan-lahan tangan Dika mulai lepas dari genggamannya dan semakin lama semakin dingin.

“Dik???” panggil Lita.

“…” tak ada jawaban.

“Dika…” panggilnya sekali lagi. Kali ini menoleh kearah Dika.

“Dik… Dika???” air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh juga. Hanya mampu menangis. Mendapati tubuh adiknya yang tidak bernyawa lagi.

“Hikz… hikz… Dika… bangun Dik!” Lita memeluk tubuh adiknya itu yang mulai dingin. Hatinya tidak bisa menahan kesedihan. Ketakutannya menjadi kenyataan.

Tanpa Lita sadari, ada sebuah kertas tengah di genggam oleh Dika. Lita mengambil lantas membacanya masih dalam keadaan memeluk Dika.

Untuk kak Lita,

Kak, terima kasih atas semuanya. Malam ini adalah malam terindah untuk Dika. Maafin Dika kak, untuk tahun ini dan selanjutnya Dika ngga bisa lagi nemenin kak Lita ngerayain bulan Ramadhan dan lebaran bersama lagi. Dika harap kakak ngga sedih dengan kepergian Dika. Dika seneng banget bisa jadi adik kak Lita. Dika pergi untuk nyusul papa, mama dan Viona. Dika akan tunggu kakak di Surga. Jadi kak Lita jangan nangis. Jiwa Dika selalu ada di samping kak Lita. Dika pengen kakak bisa hidup lebih baik lagi dari pada sekarang. Dika sayang sama kak Lita. I love vou. For now and ever you heart me.

Dika

“ Hikz… hikz… Dika… kakak juga sayang sama Dika.”

-FIN-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s