Mereka Adalah Duniaku

Posted: Juni 19, 2012 in cerpen

Memperjuangkan impian memang berat ketika berbagai tikungan jalan memiliki banyak cabang. Memilih diantara dua pilihan, berjuang atau menyerah itulah sebuah pilihan. Hidup ini tidak akan menyedihkan jika kita mau merubahnya. Dibalik semua kisah terdapat kisah. Kisah yang menceritakan sepasang putra dan putri Adam. Memilih rintangan ataukah kesenangan disaat dunia mereka bermasalah. Hanya hati mereka dan kesungguhan mereka yang akan menjawab.

27 April 2012

Sebuah kontes budaya dunia diselenggarakan tepat di Paris Center of Art. Sebuah kontes yang diikuti lebih dari 25 negara di dunia diantaranya Mexiko, India, Singapura dan salah satunya adalah Indonesia. Berbagai macam corak budaya mulai dipertontonkan. Banyak suara memadati stadium tempat kontes itu diselenggarakan. Mereka berteriak menyemangati para pemain idola mereka. Namun ada yang berbeda dengan suasana ini. Seorang remaja berumur 19 tahun tengah gelisah menanti gilirannya untuk tampil. Suara ria para penonton membuat kakinya terasa lemah tak mampu menyangga tubuhnya. Berbagai pikiran-pikiran negative bergemelut dalam otaknya.

Prok…prok….prok…

“hye…. We love Paris. Paris is the winner!” suara para penonton.

“yeah… Paris!!! The great performance. How your opinion?”

“Paris!!! We love you…”

“hahaha…. Okey, giving applause for Paris. For the next performance by Indonesia!!” Suara presenter dari acara akbar ini semakin membuat remaja terebut grogi.

***

Sungguh ini adalah lautan manusia. Oh Tuhan… apa ini, mengapa? Aku tak kuasa menahan ketakutan yang tiba-tiba muncul ini. Rasanya lemas.

“Ben!!!” sebilah suara membuyarkan lamunanku. “hey,.. kenapa? Tidak yakin kita akan menang? Ayolah!!! Bukankah ini impian kita?” sebuah senyuman melayang di bibirnya. Semangatnya perlahan mampu menghilangkan ketakutanku.

“Tapi kan Sya?” raguku.

“Shsst…” senyuman kembali. Kali ini membuat hatiku berbeda. Ada rasa damai dari senyumnya. Ada rasa yang sulit untuk aku jabarkan. “Ben,… ini impian kita. Ini nyata. Inilah hasil dari nasib yang kita pertaruhkan selama ini. Inilah penentuannya. Apa kamu mau mundur hanya dengan sekali hentakan kaki? Pikirkanlah sekali lagi. Kita bisa. Kita bisa karena usaha.”

Senyuman. Hanya sebuah senyuman yang ada di dalam hatiku sekarang. Benar. Semua ini nyata. Inilah penentuannya. Mengapa aku harus takut? Aku tak akan pernah melewatkan semua ini. Semua harapan Negara dan orang tuaku ada disini. Di pundakku.

10 tahun yang lalu…

Ketika hujan menyusupi bumi, akankah impian berakhir? Tak ada yang mampu menebak. Kepada siapa kita harus bertanya jika bukan kepada diri kita sendiri? Sebuah kecintaan akan budaya yang masih terpegang erat dalam pergolakan tradisi menjadikan sebuah impian. Entah itu hanya sekedar impian ataukah sebuah tekad. Iben Putra. Seorang laki-laki yang dilahirkan dalam tekanan tradisi. Namun tidak satupun dari tradisi yang ada itu mengusiknya. Melainkan, sebuah rasa cinta yang terukir dalam hatinya. Sebuah tradisi tarian piring yang dimodifikasi dengan tarian topeng dan tarian jaipong.  Menjadikannya tergugah untuk bermimpi membawa tarian tersebut ke sebuah kontes budaya internasional yang mungkin akan merubah nasib dari tradisi budaya yang semakin lama semakin memudar.

9 tahun yang lalu…

            Tidak pernah ada yang tidak mungkin. Segala tekat menjadi mungkin jika kita bersunguh-sungguh. Rasa ingin tahu yang dimiliki Iben semakin besar. Keinginannya untuk mempelajari tarian budaya yang ada di daerahnya membuat dia semakin bersemangat. Tekat yang ia bendung, meluap, membuatnya berkobar-kobar untuk mewujudkannya.

“Pak,… mungkinkah suatu saat Iben bisa membawa semua budaya yang kita miliki ini ke tahta internasional?”

“Tentu, kamu ingat semua pesan bapak. Hanya hati yang bersih yang bisa menguasai tarian yang bapak beri nama Topipong ini. Di dalam tradisi daerah kita, tidak pernah ada pengecualian. Laki-laki dan perempuan sama. Jika kamu ada usaha, bapak yakin. Dunia Internasional akan menjadi jalanmu bersama Topipong ini untuk melangkahkan maju Negara kita ini. Dan jangan sekalipun kamu merubahnya. Iben harus ingat pesan bapak yang satu itu. Mati-matian bapak membuat tarian budaya negara kita agar terlihat menarik kesan tersendiri bagi semua mata yang melihatnya. Jangan pernah kamu hancurkan semua, karena itu adalah harga diri bapak.”

“Iya pak, Iben janji.”

3 tahun yang lalu…                                                                               

Hasil jerih payah, semua impian, kini menuaikan hasil. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi dan bagaimana yang akan terjadi. Semua sudah terpatri dalam alam dunia yang penuh kemunafikan. Sebuah sandiwara yang sebenarnya, telah dimulai. Beriringan dengan perjalanan waktu, Iben mulai beranjak menjadi seorang remaja yang lihai. Ketekunannya dalam memperlajari tarian topipong sudah mencapai tingkat professional. Kelenturan kakinya, liukan tubuhnya, sungguh tidak ada satu cacatpun yang terlihat. Banyak orang memperhatikannya. Di sanggar budaya Topipong ini, Iben menari. Kelembutan dari tariannya, menggambarkan sesosok naga yang kandas kehilangan semburan apinya. Bagai merpati yang mengambang dalam awan. Keeksotikan dari setiap langkahnya bagaikan sebuah semangat yang terpendam. Sungguh mempesona.

***

Gemelintir hari mulai berpadu dengan jalanan hidup. Malam yang pergi tergantikan oleh pagi yang cerah. Apa ini? Haruskah aku mengikutinya? Segerombol mahasiswa mulai memadati papan pengumuman.

“Ben!! Kamu ikutan ngga???” sesosok gadis memukul pundak Ben.

“Ngga tahu, eummm… kamu Sya???”

“Aku?? Tentu saja aku akan ikut. Ayo dong ikutan! Aku pengen menunjukan tarianku yang selama ini aku pelajari di Singapura. Aku juga ingin lihat tarian Topipong yang selama ini selalu kamu bangga-banggakan itu.” Sebuah kedipan mata membuat Ben tersenyum.

Resya Tan, seorang gadis keturunan asli Indonesia ini adalah sahabat baru Iben. Memang, Resya memang orang Indonesia. Sejak kecil Resya tinggal di Singapura bersama orang tuanya. Ketika beranjak dewasa Resya memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan melanjutkan kuliahnya di Indonesia. Banyak cerita yang ia bawa. Termasuk kebudayaan yang ada di Singapura.

“Ok,.. siapa takut! Kita lihat siapa yang bakalan menang di lomba budaya ini! Deal???”

“Deal!!!”

14 Mei 2009

Hatiku terpesona dengan satu keindahan sebuah tarian yang dibawakan oleh Resya. Gerakannya sungguh anggun. Meskipun aku tahu itu adalah dance yang notabene merupakan tarian modern, akan tetapi aku melihat sebuah perbedaan. Tarian ini memiliki kekuatan. Kekuatan, kasih sayang, kelembutan, semua membaur menjadi satu. Memiliki nilai estetika tersendiri. Aku tak yakin jika topipong ku mampu mengalahkannya. Tapi!! Tunggu dulu! Benar saja! Tidak ada yang tidak mungkin. Aku yakin jika topipongku didominasi dengan dance milik Resya akan ada satu perbedaan  yang lain dari pada lainnya.

Prok…prok..prok…

“Tarianmu bagus!” puji Iben setelah Resya kembali ke tempatnya.

“Kamu juga!”

“Baiklah para penonton, sebentar lagi kita akan mendapatkan pemenangnya.” Sambut MC. “The runner up adalah??? Resya….Tan!!!” tepuk tangan membahana di stadium tempat di adakannya lomba budaya.

“Lantas siapakah yang menjadi The Winner???” suara MC membuat penasaran. “Jreng…jejeng…jejreng…!!! Ib..eeennn…. Pu..tra…!” teriak MC dari panggung.

            Sungguh ini semua diluar dugaanku. Topipongku,.. menang? Sujud syukur yang dapat aku ungkapkan. Latihanku ada hasil. Aku ingin topipongku dikenal. Dan hari ini adalah awal, aku bisa merasakan rasa haru atas kemenanganku untuk pertama kalinya.

***

Plaakkk!!! Tamparan keras terdengar hingga ke luar sanggar budaya Topipong. “Apa yang kamu pikirkan Ben!! Sampai kapanpun bapak tidak akan rela jika topipong bapak kamu campur aduk dengan tarian dance!”

“T-tapi pak! Lihatlah! Tidak ada yang salah dengan Topipong dance ini! Iben hanya ingin memberi warna yang lain dari Topipong kita!”

“Tapi kamu harus tahu Ben! Dance bukanlah budaya kita! Itu budaya Asing!”

“Lantas apa yang salah dengan budaya asing!! Kita bisa mengadopsi mereka, kita bisa memilah mana yang pantas dan mana yang tidak! Bagi Ben, Tidak ada yang berbeda!” Ben pergi meninggalkan bapaknya yang masih terpaku di tempat.

“Ben!!! Sampai kapanpun! Kamu tidak akan pernah menang tanpa restu bapak! Kamu tidak tahu perasaan bapak Ben,” suara bapak Ben menjadi parau. “Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan bapak. Kamu tidak akan pernah tahu seberapa besarnya bapak mencintai tarian Topipong ini.”

“Ben? Apa kamu yakin ini tidak akan apa-apa?” Tegur Resya takut.

“Aku yakin pilihanku kali ini benar!”

***

Kepada siapakah keindahan ini akan bersemi? Aku akui tidak ada satu restupun yang aku bawa dari bapakku. Datang kesini dengan modal nekat. Bersalah? Yah mungkin! Tapi inilah jalanku. Apapun itu akan kulalui. Baik sebab dan akibatnya akan aku tanggung.

“Ben! Ayo!! Ini giliran kita!” Resya menarik tanganku menuju tengah stadium. Sorak sorai penonton begitu menggelegar. Aku hanya memberinya senyum simpul.

Disinilah! Akan aku tunjukan jika kebudayaan daerah dan kebudayaan asing dapat dipersatukan tanpa merugikan sebelah pihak. Bapak! Aku yakin bapak pasti menyaksikanku di rumah. Maafkan anakmu ini yang telah lancang mengingkari janjinya  sendiri. Tapi inilah kehidupanku. Dengan atau tanpa restu dari bapak, aku pertaruhkan segala nasibku di stadium ini. Bapak akan lihat! Perjuanganku tidak akan sia-sia. Panggung ini begitu megah. Aku yakin, inilah arti dari segala impianku.

Suara alunan nada-nada yang bagiku begitu lembut mulai merasuki tubuhku. Aku melihatnya. Resya mulai melangkahkan kakinya dengan anggun. Resya sekarang adalah partnerku. Kami menikmati semua ini. Dengan pakaian tradisional aku juga mulai melangkahkan kakiku senada dengan irama. Meliuk-liukan tubuh dengan hasrat kesenangan. Memunculkan sebuah estetika yang belum pernah aku temukan. Kelembutan begitu mendominasi. Terlihat sekelilingku. Para penonton menikmatinya. Tepuk tangan mereka menambah semangat yang ada pada diriku. Tak pernah menyangka betapa indahnya semua ini.

Rasa cintaku terhadap topipong tidak akan berkurang sama sekali. Aku selalu membanggakannya dalam hatiku. Meski terkadang semua ini terlihat mustahil. Aku ingin topipongku menang. Dan dunia mulai mencarinya. Semoga dengan pencampuran dance di dalam ornamentnya akan menambah keindahan.

DEG… Aku mendengar sebuah nada yang sumbang.

Kenapa? Kenapa perasaanku menjadi tidak enak setelah melihat ekspresi penonton? Hampir di akhir bagian, aku menyadari sesuatu yang aneh. Aku melihat sampingku. Resya!! Resya tiba-tiba saja jatuh. Kakinya terkilir. Oh tuhan! Inikah maksud dari perkataan bapak? Tanpa restunya aku tidak akan pernah berhasil? Dengan sangat disayangkan, kami harus menghentikan pertunjukan. Aku membopong Resya ke ruang peristirahatan.

“Ben? Maaf… arghh…!!!” sesal Resya.

“It’s ok! Mungkin ini bukan keberuntungan kita.” Senyumku begitu berat untuk aku berikan kepada Resya. Entah mengapa ada sesuatu yang menjanggal hatiku. Aku seperti tidak rela dengan semua ini.

Ketika aku berjalan, tiba-tiba…

Bugh! Seseorang menabrak bahuku. Aku menoleh kebelakang. Tatapannya begitu tajam dan mencekik. Siapa dia? Apa maksud dari tatapannya? Hanya pertanyaan itu yang memenuhi otakku.

“Oh nuts, Resya! Severely been deplored Indonesia shall solve until here. To audiences, we will see succeeding judge decision. For the last performance is, Singapure. Audiences!!! Giving applause for singapure!!!”

Prok… prok… prok…

Suara penonton begitu meriah. Ada apa? Hatiku penasaran. Lantas aku melihat dari balik panggung. Dia!!! Bukankah dia yang menabrak bahuku tadi? Jadi dia adalah perwakilan dari Singapura! Tuhan… gerakannya begitu luwes. Sangat menarik. Bahkan lebih dari Topipongku. Dapatkah aku mendapat posisi pertama setelah kejadian tadi? Aku sudah tidak bisa meneruskan pertunjukanku. Sepertinya aku akan berhenti disini saja. Impian mendapatkan posisi juara sudah memudar.

***

Hari terus berlalu. Kejadian yang dulu biarkanlah menjadi sebuah kenangan. Jangan pernah mengungkit atau diingat jika memang itu menyakitkan. Tidak ada manusia yang sempurna ketika tuhan telah berkata. Kita semua tahu dimana kita memulai dan dimana kita akan berakhir. Dunia begitu singkat jika dirasakan. Kehidupan dunia begitu cepat jika dikenang.

“Iben! Apa yang tengah kamu pikirkan? Lihatlah! Semua ini adalah kerja kerasmu. Sanggar budaya kita bendiri besar karena campur tanganmu. Maafkan bapak yang telah menekanmu dengan segala penyangkalan. Topipong dancemu memang bagus, bapak akui itu.”

“Seharusnya Iben yang minta maaf pak, terima kasih, ini juga berkat restu dari bapak. Iben sadar, memang benar kata bapak. Tanpa restu dari bapak, Iben tidak akan pernah berhasil.” Iben memeluk sang bapak, membagi rasa kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.

“lantas kemana Resya, Ben? Bapak lihat sudah 2 tahun semenjak kamu dan dia mengikuti kontes budaya di Paris Center of Art lalu, bapak tidak melihatnya. Bahkan kamu pulang sendirian. Apa yang sebenarnya terjadi?” selidik bapak Ben.

“Soal itu, biarlah itu menjadi kenangan Ben, pak. Jangan lagi bapak tanyakan Resya dan semua tentangnya. Biarlah Ben seorang yang tahu.”

Kenangan itu biarlah menjadi sebuah kenangan. Meski semua terpatri pada alam, alangkah elok ketika kita perlahan mulai melepasnya. Tak ada yang dapat diragukan disaat raga mulai merindukannya. Di sanggar budaya topipong ini, aku akan membangunnya. Membangun sebuah kehidupan baru. Merubah takdir. Dan juga mengubah hidupku. Persahabatanku dengan Resya, biarlah tempat itu yang menjadi saksi bisunya. Aku tak mengharapkan lebih selain sebuah kejujuran. Resya, aku tak pernah menyalahkanmu tentang semua ini. Aku hanya benci untuk dibohongi. Aku ini manusia, bukan malaikat yang tidak memiliki hasrat ataupun nafsu. Di bawah kolong langit ini, aku berkata,”aku menyayangimu sebagai seorang sahabat.” Wahai merpati, kirimkanlah segala pesanku kepada Resya di jauh sana. Hanya bersama tarian Topipong ini aku hidup, karena Mereka Adalah Duniaku. Dan aku tidak akan pernah rena jika topipongku tersentuh noleh tangan-tangan kotor.

***

“Ok… for audiences! The winner of this cultural contest is??? Singapure!!!  Yeah! Giving applause for Singapure. And there is one again, we have year expectation champion this contest, who is?” suara presenter membuat penonton bertanya-tanya. “In-do-ne-sia!!!” nada menggantung mengikuti kegembiraan ini.

“yes!!” suara Iben menyeruak. Rasa haru tak mampu dibendung. Ternyata juri memberinya sebuah penghargaan atas kredisitasnya. “aku harus memberi tahu Resya tentang ini.” Tegasnya.

Karena kesenangannya, Iben segera pergi menghampiri Resya yang sedang istirahat di ruang peristirahatan. Iben tidak sabar memberitahu semua kenyataan yang baru saja ia dapat.

“Res-..sya…” suara Iben tercekat.

DEG… dari balik pintu, Ben mendengarkan sebuah percakapan yang begitu menusuk hatinya. Tangan Iben mengepal erat.

“Terima kasih. Aku kira kamu tidak akan melakukannya demi kakak mu ini!”

“Chih!!! Kalau bukan gara-gara kamu mengancamku dengan papa dan mama sebagai senjata, aku tidak akan sudi melakukan semua ini. Meskipun aku adikmu, tapi aku masih lebih mencintai Indonesia dari pada dirimu yang lebih memilih untuk mewakili Singapura. Aku lebih bangga dengan Topipong milik Negara itu meskipun itu hanya tarian sederhana,”

“Hahaha…. Terserah! Yang jelas kamu sendiri yang telah menghianati Topipong bersama pemiliknya itu! Brakk…” laki-laki itu membanting pintu dan berlalu pergi. Melihat semua itu, Iben segera menghindar. Jadi?? Semua ini murni ulahmu Sya? Iben segera masuk dan berdiri mematung di hadapan Resya.

“Jadi??” gelinangan air di pelupuk mata Iben mulai muncul.

“I-ibe-en!!” nada Resya terbata-bata. “Aku bisa jelaskan semua ini!!!” tanpa pikir panjang Resya berdiri dan mengejar Iben yang beranjak pergi.

“Ternyata benar! Kakimu??” Iben menghela nafas sejenak. “Hhhh.. lebih baik” Iben menggantungkan kata-katanya. “Lebih baik kita cukup sampai sini. Biarlah pertemanan kita selama ini usai dengan semua ini. Aku hidup dengan Topipongku dan kamu pergi bersama dancemu itu.” Iben pergi tanpa pamit.

***

Semenjak hari itu, aku masih mengingatnya Ben. Jika saja aku tidak menuruti permintaan kak Ryon, mungkin kita masih bersahabat dan membangun impian kita bersama. Maafkan akan segala salahku. Biarlah angin ini membawa semua sesalku padamu. Aku Resya Tan, memang tidak pantas berdampingan dengan Topipong yang merupakan Duniamu itu.

Perjalan hari pasti terus berjalan. Meski arah tak menentu, namun langkah kita akan terus mendampingi. Hidup berdampingan bersama budaya yang masih lekat dalam jiwa kita, akan membuat sebuah keselarasan yang jarang kita rasakan. Sebagai rasa cinta kita, mengapa kita tidak pernah melestarikan budaya tersebut? Disaat mereka meraih kemenangan, kita harus bangga. Mencintai budaya kita. Karena mereka adalah hidup kita.^^

-FIN-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s