Happy New Year kak Teguh

Posted: Juni 19, 2012 in cerpen

—————————–Happy New Year Kak Teguh——————————–

Title: Happy New Year kak Teguh

Length: Oneshoot

Genre:  Family, Angst, happy ending, dkk.

Cast:

  • Teguh
  • Vina
  • Meta
  • Sasya

Support cast: Bisa kalian temuin sediri di dalam cerita.

Author: Cblink (baca: sableng)

 

Rentetan mendung menghiasi hari-hari seorang gadis belia yang kini telah duduk dibangku SMA. Hari-hari yang semulanya indah bagi kehidupannya, kini semua berubah ketika kedua orang tuanya meninggal dalam tragedi sebuah kecelakaan pesawat. Pukulan yang berat bagi batinnya. Kedua kakak laki-lakinya terus menerus berselisih hingga akhirnya ia harus berpisah dengan kakaknya, Meta.

“ apa yang loe pikirin???? Lo nggak lihat adik gue nangis Cuma karena kita tengkar terus???”

“ loe pikir Vina Cuma adik loe doang.?? Dia juga adik gue!!! Biar dia ikut gue aja, dari pada ama loe..!!! terlalu banyak aturan!”

“ Vina nggak bakalan ikut loe, dia pasti milih ikut gue. Loe tuh kakak yang nggak bisa di andelin!”

“gue bisa jaga Vina, bahkan lebih baik dari pada loe!”

“ udah kak… jangan bertengkar terus.. Vina capek ngedengerinnya..” terka vina dengan isakan tangis.

“ok.. kalo loe, ngerasa loe bisa ngejaga Vina, lebih baik kita tanya ke Vina, dia mau ikut sapa! Loe atau Gue???”

“ Ok…!  Vina, sekarang Vina yang pilih,! Ikut kak Meta atau kak Teguh???”

Vina hanya mampu terdiam membatu dengan pertanyaan dari kakaknya itu. Vina bingung, dia nggak tahu harus milih siapa. Dia sayang kedua kakaknya dan nggak mau berpisah dengan salah satu dari mereka.

“ kenapa kamu diam saja Vin???” Tanya Meta menuggu jawaban dari Vina.

“Loe udah liat sendiri kan??? Kediaaman Vina, berarti dia lebih milih gue di banding loe.”

“Ok.. gue kalah.!! Gue yang akan pergi dari rumah ini tanpa Vina. Jika kediaman Vina adalah sebuah jawaban, nggak papa, Vina berhak memilih. Kak Meta akan selalu menyayangi Vina. Kak Meta akan selalu ada jika kapanpun Vina membutuhkan kak Meta.” Ucap Meta sambil memeluk adik kecilnya itu.

 

Dengan  keegoisan yang mendalam Meta melangkahkan kaki pergi dari rumah itu. Dia tak pernah memperlihatkan batang hidungya lagi. Dengan harta peninggalan dari kedua orang tua mereka, Meta memulai hidupnya. Ia pindah sekolah dan membuka usaha di suatu tempat. Meskipun ia tahu jika harta keluarganya mampu untuk membiayai hidupnya tapi ia ingin mencoba untuk mandiri. Dan semenjak kejadian itu, Vina tinggal bersama kakaknya, Teguh.

 

@@@@@@

————————-4 tahun kemudian————————-

Hujan rintik-rintik mulai membasahi hati yang temaram. Kerinduan akan kasih sayang seorang kakak yang tiba-tiba berubah drastis, membuatnya tersungkur ke dalam problematika yang mendalam.

 

Vina Prinsiska Vaeliontina, nama yang indah bagi seorang gadis seperti dia. Parasnya  Seperti namanya, banyak laki-laki yang mengatakan bahwa ia adalah seorang putri yang turun dari kayangan untuk mencari jodoh di bumi. Kini dia telah lulus SMA dan sekarang ia menduduki bangku kuliah. Semua masa lalu buruknya perlahan-lahan mulai mampu ia atasi. Dan saat ini ia mulai bahagia dengan kehidupannya bersama kakaknya.

“ hai Vin… gimana kabar loe hari ini???, eum..tadi tuh siapa???” sapa seseorang yang memiliki nama Sasya sembari duduk di samping Vina.

 

Sasya Federisya. Ia adalah teman Vina. Mereka sama-sama menjajaki fakultas seni ternama di Semarang. Yah benar sejak kejadiaan 3 setengah tahun yang lalu, Teguh Sugiantoro  yang tak lain adalah kakak Vina, mengajaknya pindah ke Semarang. Lantas semua perusahaan yang di tinggalkan kedua orang tua mereka ikut dialihkan ke Semarang. Beruntung saat itu ada cabang perusahaan di Semarang sehingga Teguh degan mudahnya dapat merubah pusatnya di Semarang.

“oh.. dia? Dia adalah kakakku. Kak Teguh! Memangnya kenapa??? Loe naksir???” Jawab Vina.

“ emh… ngga’ Cuma…”

“hey gais… gimana kabar kalian pada???” belum selesai Sasya ngomong tiba-tiba ada aja orang ganggu ia dan Vina.

“fine!, loe sendiri gimana kabar loe???” jawab Vina sedapatnya.

“eh Vin, gue kasih tahu ya, loe tuh nggak usah tanya kabar anak cecurut  ini, pasti dia jawabnya ‘gue selalu baik karena ada Vina di samping gue’ ketara baget dari mukanya.” Sambung Sasya dengan ketus, merasa terganggu dengan kedatangannya.

“tahu aja loe say,..” jawab cowok itu sambil sambil mincing-mincingin sebelah matanya.

“nama  gue Sasya ya?? Bukan say.” Sasya nampilin bibir manyunnya.

“nggak usah marah gitu juga lah say..” jawabnya sambil mencolek dagu Sasya. Ia senang sekali mempermainkan anak itu.

“ udah gue bilang nama gue Sasya, bukan say!” nada bicara Sasya mulai meninggi.

“udah-udah.., loe-loe pada,  nggak  malu apa di liatin temen sekampus! nie kita lagi ada di katin ya, bukan kamar mandi. Loe kenapa Nam, sumringah gitu?” kata Vina menengahi perdebatan antara Sasya dan cowok yang diketahui bernama Anam itu.

 

Anam, Saiful Anam. Dia adalah satu-satunya cowok yang menengahi persahaban antara Vina dan Sasya. Dan juga sekaligus sebagai pacar Vina.

“Ah.. ngga’, kan gue sumringah karna ketemu kedua sahabat gue.” Ucap Anam dengan menyenggol  tangan kanan sasya.

“hahaha…”  Pembicaraan mereka semakin lama semakin membuat mereka tenggelam oleh waktu.

 

@@@@@

Mata kuliah hari ini begitu melelahkan bagi Sasya. Dia menghempaskan tubuhnya secara tak beraturan ke ranjang. Melihat kejadian tadi siang. Dalam fikirannya penuh dengan tanda tanya.

@flashback.

Ketika di kantin Sasya medengar pembicaraan dua orang cewek.

“eh..eh…. loe tadi liat nggak yang bawa mobil sport item, nganterin cewek di depan kampus tadi???”

“ia gue liat, emang kenapa???”

“Loe tahu nggak sih??? Dia itu Teguh!!! Teguh Sugiantoro. Pengusaha termuda yang sukses se-Asia Tenggara, masa loe nggak kenal.”

“beneran loe??? Nggak mungkin… dia tuh ganteng banget. Bahkan terlalu ganteng kalo buat jadi seorang pengusaha. Dia tuh pantesnya jadi seorang malaikat.”

“ iya bener, gue nggak bohong.! Loe iris dech mulut gue kalo loe nggak percaya. Dan denger-denger lagi dia tuh punya adik yang juga kuliah disini, yang di anterin tadi tuh.!”

“loe beneran nggak bo’ong nich??? Siapa nama adiknya???”

“itu loch… si Vina Prinsiska, cewek yang di bilang-bilang putri dari kayangan.”

“och.. dia! Pantes aja semua cowok bilang gitu, kakaknya aja kaya malaikat pa lagi adiknya.”

@end flash back

“ Pa bener kata dua cewek di kantin kemarin ya??? Hmmm… Kalo bener Vina itu adik pegusaha yang paling tersohor di asia tenggara,. Sepertinya, perjalanan gue akan segera berakhir. Gue udah ngga kuat hidup jadi orang miskin melulu. Kalau di bilang iri, yah.. gue emang iri sama Vina, dia sangat beruntung sekali punya banyak temen, semua cowok pada suka sama dia, apalagi soal itu, beruntung sekali dia punya kakak sekaya dan sekerend itu. Tunggu aja loe Vin, gue bakalan rebut semuanya dari loe. Loe pikir gue selama ini seneng apa jadi kuntit loe?.  NGGAK!!! Ini kesempatan yang bagus buat gue.”

 

@@@@@

“ sore kak,,” ujar Vina menghampiri kakaknya yang masih sibuk kerja.

“Vina, kenapa Vina datang ke kantor kakak??? Emangnya kuliah vina udah selesai???”

“udah!, kan Vina kangen sama kak Teguh… ^^”  kata Vina sambil mengedipkan sebelah matanya.

“kamu ini, sampai kapan seperti ini terus??? Kaya anak kecil.”

“sampai kak Meta datang ke hadapan Vina, Ups..!!” Vina keceplosan dengan nama ‘Meta’. Dan hanya di balas dengan senyum pahit oleh Teguh.

“Vina, kak Teguh kasih tahu ke Vina, jangan sekali lagi vina sebut nama itu di hadapan kakak. Bagi kakak, kak Meta sudah mati!!!” ujar Teguh, menghampiri lalu memegang bahu Vina.

“tapi kan kak!!!” bantah Vina

“sudah kakak bilang cukup Vin!!” nada bicara teguh mulai meninggi. Membuat Vina tersentak kaget dan kini bulir air mata mulai terlihat di pelupuk mata Vina.

“tapi kenapa kak??? Kak Meta selamanya akan menjadi kakak Vina.” Oceh Vina di dampingi dengan rembesan aa

“karena apa kak???” potong Vina dengan penuh tanda Tanya.

“karena dia bukan anak kandung papa dan mama! Puas kamu Vin???” Teguh semakin geram dengan ocehan adiknya.

“bu-bu-bukan a-a-anak k-kadung p-papa dan mama??? Ngga’…!!! ngga’ mungkin!!!, kakak pasti bohong… NGGAK MUNGKIN.>>>” Vina menangis histeris kemudian berlari keluar dari kantor tersebut.

 

Teguh yang semulanya hanya diam, kini ia berlari mengejar Vina. Seluruh pejuru di kantornya ia telusuri. Hingga suatu tempat yang belum ia jamah sama sekali. Sebuah pantai di pinggiran kota semarang. Teguh tahu kalo itu adalah tempat yang sering dikunjungi  Vina.

———–@ Pantai @————

“ nggak mungkin…. Semua ini nggak mungkin.. kenapa??? Kenapa harus ada kenyataan seperti ini??? Kenapa????” Vina menangis tersungkur dengan jeritan pengelakan.

“ Vina…” panggil seorang cowok lirih.

“…..”

“ Vina…” kini vina mulai mendongakkan kepalanya denga matanya yang mulai sembab. Ia mendapati seseorang berdiri dihadapannya.

“k-kak M-Meta… kak Meta???” Vina kaget dan tak percaya.

“iya Vin, ini kakak.!” Vina mulai berdiri dan menghambur tuk memeluk kakaknya tersebut. Dan kelakuannya itu, di sambut dengan pelukan hangat dari Meta.

“ Vina kenapa???”

“ seharusnya Vina yang Tanya, kemana saja kak Meta selama ini???”

“ kak Meta nggak kemana-mana, selama ini kakak ada di sekitar Vina,! Hanya Vina saja yang nggak pernah merasakan keberadaan kakak. Vina kenapa??? Kenapa vina berteriak-teriak sambil menangis di pantai sendirian???” medengar pertanyaan dari Meta, Vina tambah histeris.

“hikz…hikz…”

“Vina.. jawab kakak!!! Apa kak Teguh udah nyakitin Vina???” Meta melepas pelukannya dan kini ia memegang pipi Vina untuk menatapnya.

“…..” tak ada jawaban dari Vina.

“Vina… tatap mata kak meta!!” sentak Meta. “sekarang katakan!! Apa yang sebenarnya terjadi???”

“hikz… hikz… kak Meta…”

“iya Vin…” tatap Meta penuh dengan pengharapan sebuah penjelasan dari Vina.

“hikz… apa bener kata kak Teguh kalo kak Meta bukan anak papa dan mama,hikz… yang berarti kak Meta buka kakak kandung Vina???” lugas Vina sembari memegang kedua tangan Meta yang ada di pipinya.

“…..” Meta melepaska kedua tanganya dari pipi Vina.

“jawab vina kak…” vina mulai megoyak-ngoyak tubuh yang ada di depannya. Meta hanya tersenyum simpul.

###backsound: cukuplah sudah by  XO-IX

“ jadi vina udah tahu???” Meta memulai pemmbicaraan kembali.

“maksud kak Meta???” Meta mulai berjalan mendekati pantai. Sayup-sayup angin senja mulai menebas tubuh mereka. Vina hanya mengikuti jejak kaki Meta”

“memang benar Vin, semua yang di katakan kak Teguh memang benar! Kak Meta bukan kakak kandung Vina.!”

“hikz, ada apa ini sebenarnya???? Kenapa kak Meta membenarkan semua kata-kata kak Teguh??”

“ 4 tahun… 4 tahun yang lalu, masih ingatkah Vina??? Saat dimana kak Meta dan kak Teguh bertengkar??? Sebenarnya akar dari permasalahan itu adalah keinginan kakak untuk meninggalkan kalian. Kak Meta tahu jika kak Meta bukan anak kandung papa dan mama, begitupun kak Teguh. Saat itu kak Meta ingin sekali mencari orang tua kandung kak Meta. Namun kak Teguh melarang kakak. Karena keangkuhan kami berdua, perdebatan itu semakin membesar. Hingga kak Teguh tak terima dengan keputusan kakak dan ia pun akhirnya menyuruh kakak untuk pergi dari kehidupan kalian.”

“ separah itukah??? Kenapa Vina nggak pernah tahu persoalan ini???” desira ombak pantai mulai menggelegar.

“itu karena kak Teguh dan kak Meta merahasiakan ini semua dan menutup rapat-rapat rahasia ini dari Vina. Namun tuhan memang adil, dengan mudah tuhan membongkar semuanya.”

“lantas, bagaimana kak Meta tahu jika kakak bukan anak kandung papa dan mama???”

“semua dari kejadian 14 tahun yang lalu di saat kakak kecelakaan tertabrak truk, kakak mengalami pendarahan berat, dan semua orang berlomba-lomba untuk mencarikan donor darah untuk kakak, hingga dokter memberi tahu bahwa darah kami tidak cocok dan dokterpun bertanya kepada papa dan mama apakah kakak anak kandung mereka atau bukan???”

@flashback

“ dengan sangat di sayangkan, kami minta maaf pak, bu, darah kalian tidak cocok dengan Meta. Dan dari hasil lab yang kami temukan, ada sebuah keganjilan dari kalian. Apa benar Meta ini anak kandung kalian berdua???”

“hikz… hikz… memang benar dok, hasil lab itu memang tak salah. Sebenarnya Meta memang bukan anak kandung kami, kami mengadopsi dia sejak dia masih bayi.” Jawab Mrs. Valen sembari memeluk suaminya, karena mendapati kenyataan itu.

DEG…

“benarkah??? Benarkah Meta bukan adikku???” gumam Teguh kecil yang tak sengaja medengar pembicaraan antara dokter dengan kedua orang tuanya.

“tolong usahakan untuk mendapatkan donor itu dok!!!”

“baiklah pak, bu, kami segenap dokter dan perawat di rumah sakit ini, akan megusahakan yang terbaik untuk kesembuhan Meta.”

@flashback end

“ dari percakapan itu, dengan keadaan kakak yang terbaring lemah, samar-samar kakak masih bisa mendengarnya. Yakinlah Vina, apapun yang terjadi kakak akan selalu ada untuk Vina. Dan sampai kapanpun kak Meta akan selamanya menjadi kakak Vina.” Kedua tangan Meta memegang pipi Vina, berusaha meyakinkan apa yang semestinya di yakini Vina.

 

Pertemuan antara Vina dan Meta semakin menghangat. Pelukan rindu mengusir kedinginnan hati nan sepi. Perlahan-lahan Meta melepaskan pelukannya dan beralih megecup hangat kening Vina. Di sisi lain ada seseorang yang tengah geram, mengepalkan tangannya. Tidak terima dengan pemandangan yang tengah dilihatnya. Seakan-akan semua akal warasnya melayang ntah kemana.

“Vina!!!” teriaknya. Vina dan Meta pun menoleh ke sumber suara itu.

### end backsound

“k-kak.,, Teguh!!!” suara Vina bergemetar. Teguh datang menghampiri mereka. Dan langsung mendaratkan sebuah pukulan pada wajah Meta. Meta jatuh tersungkur ke tanah.

“kakak..” bentak Vina. Vina mecoba tuk membantu Meta berdiri. Namun sia-sia, karena Teguh berhasil menarik tangan Vina menjauh dari Meta.

“Vina, sini,.!!!.”

“kakak!!! Lepasin!!!” Vina mulai memberontak. Tapi percuma, karena kekuatan Teguh lebih besar dari pada Vina.

“DIAM!!!, loe apain adik gue sampe dia jadi pembantah kaya gini???” Teguh menujuk Meta dengan penuh tuduhan.

“hah…” Meta mengeluarkan senyuman pahit. Melihat ekspresi meta, teguh tambah geram, ia pun kembali mendaratkan tonjokan pada wajah Meta.

“Gue nggak butuh senyum pahit loe!!! Jawab gue! Loe udah rasukin apa pikiran adik gue???” tonjokan kembali di daratkannya.

“kak Teguh!!! Sudah!!!” Vina mencoba melerai dengan menarik tubuh Teguh untuk mejauh.

“hehe… loe pikir Vina cuma adik loe??? Dia juga adik gue” Meta menjawab dengan nada bicara yang meninggi.

“gue kasih tahu ke loe!!! Vina bukan adik loe! Dia adik gue! Bukankah loe sendiri yang udah ngambil keputusan buat pergi dari kehidupan kami!! Dan mulai saat itu, Vina bukan lagi adik loe!!!” Teguh kembali berlari kearah Meta dan memberi tonjokan yang kesekian kalinya.

“Ayo Vin,..” Teguh menyeret tangan Vina pergi. Meta yang merasa telah babak belur hanya mampu melihat Vina pergi menjauh tanpa mencegahnya.

@@@@@

Kemelut masalah terus mengukir jalan hidup ini. Tak ada kebahagiaan tanpa sebuah masalah. Semua saling melengkapi. Seperti halnya tak ada pelangi tanpa hujan. Tak ada siang tanpa malam. Dan tak ada cinta tanpa benci.

Drrrttt…. Drrrtttt….

“halo..”

“Anam???”

“iya, ini gue, napa loe malem-malem nelpon???”

“gue mau ngomong ma loe! Loe sekarang di rumah nggak??? Gue lagi OTW ke rumah loe nih!”

“n-ngomong ap..?”

Plip … belum selesai bicara, telepon sudah sudah di matikan secara sepihak.

@ Anam home’s

“siapa tadi Nam???”

“nggak tahu kak!!! Udah, kak Meta istirahat saja. Kenapa kak Meta jadi babak belur begini?? Sebenarnya apa yang terjadi???”

“Owh… ini hanya kesalah pahaman saja.”

Ting Tong.. Ting Tong… suara bel rumah Anam begitu nyaring

“kakak istirahat saja, biar Anam lihat siapa yang datang. Kakak istirahat dulu saja di rumah Anam. Biar besok Anam telpon supir kakak buat jemput kakak.” Anam mulai pergi meninggal kan Meta yang masih terbaring lemah di ranjanng. Berjalan keluar menuju sumber suara yang begitu mengusiknya. Ia membukakan pintu dan mendapati Sasya sudah berdiri di depan rumahnya.

“gue mau ngomong tentang vina!”

“hemmppttt…..” Anam yang mendengar nada bicara tinggi dari Sasya dengan sontak membekap mulut Sasya dan membawanya keluar menjauh dari rumahnya.

“jaga omongan loe!!!”

“mpbuah…. Loe mau bunuh gue???”

“sapa suruh loe ngomong sekeras itu??? Di rumah gue lagi ada orang. Sebenarnya apa yang mau loe omongin ama gue???”

“bla… bla… bla…”

 

Di balik tirai kamar Anam, Meta mengintai mereka. Namun sangat di sayangkan Meta tak bisa mendengar percakapan mereka. Selama ini Meta tahu jika adiknya berpacaran dengan Anam. Sehingga ia berusaha untuk masuk ke dalam kehidupan Anam. Namun sampai saat ini ia belum mendapatkan informasi apapun tentang kehidupan Anam. Sepertinya latar belakang kehidupan Anam begitu di tutup rapat.

 

Meta, Meta Febrianto. Adalah kakak kedua Vina. Memang benar Meta bukan kakak kandung Vina, namun rasa sayang yang dimilikinya tak kan pernah dapat di ukur dengan mata batin biasa. Biarpun selama ini ia telah meninggalkan kehidupannya dengan Vina, namun tak jarang dia selalu mengintai setiap  jengkal perubahan yang di lakukan oleh Vina. Namun saat ini dia begitu kesusahan untuk mengatasi segala yang berhubungan dengan Anam. Sepertinya ada sesuatu di dalam diri Anam yang ia rasa sangat janggal, tapi apa itu? Meta sendiri masih berkutat dengan itu semua. Hingga ia lalai dan melupakan Vina untuk sesaat.

“siapa kiranya gerangan yang tengah berbicara dengan Anam??? Aku hanya bisa melihat punggungnya saja.” Ucap Meta dalam hati.

“apa loe yakin???”

“ya! Gue yakin. Gue yakin perasaan loe juga sama seperti gue! Dan tujuan utama loe buat macarin Vina sama seperti gue!”

“ok.. gue ikut permainan loe!!!

 

@@@@@

Hari yang mulai bergelayut dengan awan mendung, kini telah bertambah tuk menenenggelamkan sinar yang dikit demi sedikit meredup. Hari yang cerah seakan-akan tergantikan badai yang bertubi-tubi. Dengan semua persiapan yang matang, Sasya mulai melancarkan tujuannya yang semula. Merebut semua kebahagiaan yang dimiliki oleh Vina. Seperti biasa Teguh mengantarkan Vina ke kampus. Perlahan demi perlahan Sasya mulai mendekati hubungan kakak beradik itu. Waktu demi waktu mulai bejalan cepat. Di mulai dari perkenalan singkat merambat menjadi teman. Dikit demi sedikit status itu pun berubah akibat ulah Sasya. Kekerapan Sasya menginap di rumah Vina membuatnya semakin dekat dengan Teguh. Sasya berniat membuat hubugan ini berawal dengan baik. Hingga Sasya dapat melancar rencana kedua. Untuk kesekian kalinya, rencana pertama Sasya telah berhasil. Ia berhasil masuk ke dalam kehidupan Teguh dan Vina.

 

Saatnya melaksanakan rencana kedua. ‘menarik simpati Vina dan Teguh’. Hal yang pertama ia lakukan adalah membuat ulah di rumahnya sendiri sehingga kedua orang tuanya mengusir ia dari rumah. Sasya berpura-pura sedih dan langsung menelpon Vina.

## kau buatku gerah…rah… ini lebih dari sekedar rasa.. atau  ilusi semata…##

Tiitt..

“halo!!!” suara Vina di seberang sana.

“Vin.. hikz… hikz…” ucap Sasya dengan pura-pura terisak.

“ loe kenapa Sya…” Vina panik.

“g-g-gue… gue… di usir dari rumah Vin!!!”

“gimana bisa??? Ntar… ntar… sekarang gue bakal ketempat loe!!! Posisi loe dimana???”

“gue di daerah simpang lima nih”

“okok.. tunggu gue!!! Loe jangan kemana-mana”

Plip… Vina langsung mengambil kunci mobil. Dan keluar rumahnya tanpa pamit sama sekali dengan Teguh. Ia melajukan melajukan mobilnya cepat. Menuju ke posisi dimana Sasya saat ini berada.

———————–@ beberapa menit kemudian @———————

Sasya melihat mobil Vina berjalan menuju arahnya. Ia pun segera berbalik badan membelakangi untuk meneteskan obat tetes mata agar ia terlihat sedang menangis.

“ Sya… loe nggak papa kan???” ujar Vina sembari menghampiri Sasya.

“ Vin.. gue di usir dari rumah ama bokap dan nyokap gue. Dan sekarang gue udah nggak punya tempat tinggal lagi!! hikz…hikz… hue…hue…”

“ya udah, mending sekarang loe ikut ke rumah gue aja dulu. Ntar loe crita ke gue apa  sebenarnya yang terjadi.”

“thanks ya Vin…” peluk Sasya kepada Vina dengan penuh senyum kemenangan.

———-@ vina’s home @————

Saat ini keraguan terlukis indah dalam hati Teguh. Jantungnya seakan mau copot ketika ia melihat Vina membawa Sasya ke rumah mereka untuk kesekian kalinya.

“Lho… Sasya???” ucap Teguh terkaget.

“…..” tak ada respon sama sekali

“ duduk Sya…” Vina mendudukan Sasya ke sofa.

“jadi??? Apa yang sebenarnya terjadi???” Tanya Vina to the point.

“hikz…hikz… nyokap ma bokap gue ngusir gue Vin, Cuma gara-gara gue nolak buat di jodohin sama Anam!”

 

DEG… jantung Vina seperti mau meledak. Apalagi Teguh yang sedari tadi hanya menjadi pendengar. Mendengar pengakuan dari sasya perasaannya tambah tak karuan entah takut atau apa. Sepertinya takut akan tidak tersampaikannya perasaan yang tengah ia pendam.

“Terus kenapa loe nolak????”

“karena gue udah punya impian hati gue.” Sasya berhenti bicara dan sekilas melihat wajah Teguh. Teguh yang menyadari pandangan tak biasa itu, sedikit memalingkan wajahnya agar tidak ketahuan oleh Sasya jika wajahnya kini udah seperti kepiting rebus.

“Kak Teguh” celetuk Sasya

“What???” sentak Vina dan Teguh bebarengan.

“jadi loe selama ini suka ma kakak gue???” Vina mecoba untuk memperjelas maksud Sasya.

Bla… bla… bla…

Disisi lain Teguh yang mendengar itu bergumam dalam hati ‘oh god… it’s amazing!!! Sasya punya perasaan yang sama seperti gue! Itu berarti cinta gue nggak bertepuk sebelah tangan’.

@@@@@

Semenjak kejadian hari itu, Sasya tinggal di rumah Vina. Hubungan Sasya dan Teguh berubah menjadi lebih satu tingkat, yaitu sepasang kekasih. Awalnya semua biasa saja bagi Vina namun setelah beberapa bulan Vina mulai merasakan jika sikap kakaknya berubah. Teguh jadi jarang mengantarnya ke kampus, semua perhatian Teguh tertuju seluruhnya ke Sasya bahkan rasa sayang Teguh kepada Vina juga berubah. Vina merasa sendirian sekarang. Disaat ia membutuhkan Meta, Meta juga menghilang entah kemana. Di tambah lagi sikap Sasya yang mulai semena-mena di rumahnya. Karena teguh mempercayakan semua yang berhubungan dengan Vina kepada Sasya. Bahkan keuangan Vina, Sasya juga yang memegangnya. Kartu kredit Vina, Sasya juga yang bawa. Semenjak itu, tuduhan mulai tuduhan melayang kearah Vina. Rencana ketiga Sasya mulai dijalankan, ’Mengusir Vina dari rumahnya sendiri’.

“Apa-apaan ini Vin???” Teguh berjalan sambil marah-marah menuju kearah Vina yang saat itu sedang ada di ruang tamu bersama kekasihnya, Anam. Teguh melemparkan bon-bon tagihan kartu kredit.

“sekarang jelaskan! Apa maksud dari itu semua!” Teguh semakin geram.

“ini apa kak??? Vina nggak tahu dengan semua ini!!! Vina beberapa bulan ini jarang sekali menggunakan kartu kredit,” ucap Vina sejujurnya. Di sisi lain Anam yang ada di dekat Vina melihat Sasya yang berada tak jauh di belakang Teguh mengedipkan sebelah matanya. Menandakan bahwa rencana ketiga di mulai.

“jadi??? Loe nuduh gue yang udah make’ kartu kredit loe??? Tega sekali sih loe Vin??hikz.. hikz…” Sasya datang dan menangis untuk mencari simpati dari Teguh.

“apa maksudnya semua ini Sya??? Siapa lagi kalo bukan loe?? Bukankah selama ini loe yang megang kartu kredit gue???”

 

Plaaakkk… sebuah tamparan keras mendarat di pipi Vina hingga ia terjatuh kelantai. Anam yang sedari tadi berada di sampingnya dengan sigap langsung membantu Vina berdiri.

 

“Loe nggak usah salahin orang lain atas semua perbuata loe!!!” kata-kata Teguh begitu menggelegar di hati Vina. Baru kali ini Teguh memangil Vina dengan sebutan ‘loe’.

“kakak jahat!!! Seumur hidup Vina baru kali ini denger kakak, panggil Vina dengan ‘loe’ biasanya kakak nggak pernak pake kata-kata itu!!!” air mata Vina mulai terjatuh.

“M-maafin kakak Vina.” Ucap Teguh yang mulai sadar dengan apa yang telah ia perbuat.

”ini semua pasti gara-gara loe.” Teguh mulai menuduh Anam dan meghajarnya sampai babak belur.

“kakak! CUKUP!!! Ini semua nggak ada sangkut pautnya sama Anam.”

“minggir kamu Vin!!!” amarah dalam hati teguh tambah bergejolak.

“nggak… Vina nggak akan minggir kalo kak Teguh masih tetep mukulin Anam!” ancam Vina sembari melindungi Anam. “semua ini salah Sasya, bukan Anam!” ujarnya kembali.

 

Plaakkk… sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Vina, rasa cinta Teguh terhadap Sasya telah membutakan semuanya.

 

“sejak kapan kamu berubah menjadi anak pembangkang yang suka membantah kata-kata kakak.” Bentak Teguh. “dan jangan pernah kamu melemparkan semua kesalahan kepada orang lain” Teguh mencengkeram lengan Vina dan menyeret Vina agar menjauh dari Anam.

“gue peringatin ke loe! Jangan pernah loe sekali lagi temuin adik gue! Paham???” Teguh mencengkeram krah baju Anam sembari melontarkan sebuah ancaman. Vina yang ingin menghampiri Anam, di tahan oleh Sasya.

“mulai sekarang loe pergi jauh-jauh dari kehidupan adik gue!” Teguh mendorog tubuh Anam yang sudah babak belur kearah pintu keluar. Vina yang tak kuasa menahan gejolak dalam jiwanya, sekuat tenaga mencoba tuk melepaskan diri dan berlari kearah Anam pergi dan memeluknya dari belakang. Namun dengan entengnya Anam melepaskan pelukan dari Vina.

“lebih baik hubungan kita sampai disini aja Vin! Gue nggak mau loe di sakitin ama kakak loe lagi gara-gara gue” dan Anam pun meneruskan langkah kakinya.

 

Seketika, kaki Vina lemas hingga ia terjatuh dan menangis sejadi-jadinya. Dalam hati Vina berkata ‘selamanya Vina nggak bakalan maafin kak Teguh. SAMPAI KAPAN PUN NGGAK AKAN PERNAH’. Vina pun akhirnya bertekat untuk berdiri dan masuk kekamarnya mengemasi semua baju-bajunya. Setelah selesai Vina langsung melangkahkan kakinya keluar. Di ruang tamu teguh yang melihatnya langsung menahan.

“mau kemana kamu???”

“pergi!!” jawab Vina ketus.

“sejak kapan kamu jadi pemberontak dan uring-uringan begini Vin???”

“sejak kak Teguh memisahkan Vina sama Anam. PUAS!!!”

 

Pllaaakkkk… sebuah tamparan lagi mendarat di pipi Vina.

 

“tamparan ini sudah cukup kak!!! Ini adalah tanda kalo kakak udah nggak sayang lagi ama Vina. Lebih baik Vina tinggal bersama kak Meta!! Orang yang lebih sayang Vina dari pada kakak!.” Vina memegangi pipinya dan pergi sembari menyeret kopernya. Teguh hanya dapat diam seperti orang frustasi. Sasya tersenyum puas dengan apa yang terjadi saat ini. Sasya segera berjalan menghampiri Teguh.

“kak..” lirihnya. Teguh yang sadar akan keberadaan Sasya langsung memeluknya.

“kak… siapa Meta???” tanyanya.

“dia adalah adik kakak” ucap Teguh lirih.

“kakak???? Masa bodolah!!! Hahahaha… loe lihat sedirikan Vin??? Gue udah berhasil ngrebut semua yang loe punya!! Kakak loe.. dan kasih sayangnya. Tapi gue nggak tahu apa yang gue rasaain sekarang. Awalnya gue emang berpura-pura. Tapi kenapa hati gue minta lebih??? Ada apa ini? Apa yang terjadi ama gue? Mungkinkah gue mulai jatuh cinta sama kak Teguh?? Entahlah… yang jelas cinta enggak cinta dia tetep milik gue sekarang.”

@ flashback

“ kita lakukan sekarang”

“loe yakin???”

“gimana caranya??? Dengan kartu kredit ini!! Kita bakalan belanjain semua isinya.”

“terus???” semua tagihannya kita atas namakan Vina! Gmana???”

“ok!!! Ide yang bagus!!!”

@end flash back

@@@@@

Awan mendung mulai bergemuruh tak menentu. Setelah Vina pergi dari rumah, kakinya terus melangkah seperti tanpa tujuan. Hingga akhirnya ia berhenti dan berdiri tepat di depan rumah, yah dapat dikatakan rumah yang cukup elit di kalangan rumah sekitarnya.

Vina kemudian duduk termenung di depan rumah tersebut menunggu seseorang yang sangat ia rindukan. Berkali-kali ia telah menekan bel tapi tak kunjung jua ada yang keluar tuk menghampirinya.  Hari semakin malam dan udara malam semakin menejerumus ke dalam pori-pori kulit Vina. Vina merigkuk kedinginan karena seseorang yang ia tuggu tak kunjung datang.

——-@ 3 jam kemudian @——-

“hahaha….” Vina mulai terbangun oleh suara tawa dari seseorang yang ia rasa ia mengenalnya.

Dari kejauhan Nampak dua orang cowok sedang berjalan dengan salah satu cowok memegang pinggul mereka Nampak serasi sekali. Vina yang penasaran dengan suara itu kemudian terbangun dan berdiri untuk melihatnya. Namun sayang lampu penerangan jalan sangat samar-samar sehingga ia sulit untuk mengetahui siapa mereka. Namun itu hanya beberapa saat sebelum Vina akhirnya tercengang dengan pemandangan yang tengah ia lihat. Kedua cowok itu ciuman di depan matanya. Ciuman itu tidak bertahan begitu lama ketika salah satu cowok melihat Vina berdiri memandangi mereka.

“V-vina…” katanya terkaget. Ia pun segera melepas ciuman dan pelukan mereka.

“k-k-kak M-Meta???” kaki Vina mulai terasa lemas hinggah tak mampu menopang tubuhnya lagi dan terkulai lemas di tanah. Menangis? Sedih? Sakit? Bingung? Terdapat rasa yang sulit di arti kan oleh hatinya untuk saat ini.

“Vina… k-kakak bisa jelasin tentang semua ini!!” Meta meghampiri Vina untuk membantunya berdiri. Namun dengan sigap Vina langsung menepis tangan Meta.

“jangan sentuh aku..!!! kakak jahat!!!” Meta yang mengetahui kekecewaan Vina langsung memberi isyarat ke cowok yang bersamanya tadi agar pergi.

“Vina… kakak bisa  jelasin semuanya.! Ini nggak seperti yang Vina lihat.” Bujuk Meta.

“kakak jahat… kakak jahat…” hanya kata-kata itu saja yang di ucapkan Vina sembari memukuli tubuh meta dengan tangannya. Meta yang melihatnya uring-uringan langsung saja mendekap tubuh Vina.

Deg…

“perasaan apa ini??? Kenapa tak seperti biasanya aku memeluk Vina??? Jantungku seperti berdetak lebih cepat aliran darahku juga juga seperti terasa mengalir sangat panas.”

“kakak bisa jelasin semuanya ke Vina., maafin kakak..!” Vina mulai merasa lelah.

“hikz…hikz… kenapa kak??? Kenapa??? Jadi selama ini kak Meta gay???” Tanya Vina bertubi-tubi dalam isakannya.

“maafin kakak Vin.. maaf! Kakak janji nggak bakal jadi gay lagi, kak Meta janji!!!” Meta merasa takut entah ada apa meta tiba-tiba saja melontarkan janji itu dari mulutnya. Mendengar janji Meta, Vina langsung membalas pelukan dari Meta dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Meta.

“hikz..hikz…”

“Lalu Vina kenapa malam-malam di depan rumah kakak???” Meta melepaskan pelukannya dan beralih memegangi kedua pipi Vina.

“Vina mau tinggal sama kak Meta! Vina nggak mau tinggal sama kak Teguh!”

“ya udah kita bicarain di dalem rumah, di luar cuacanya sangat dingin.”

—Beberapa menit kemudian—

“sekarang Vina tidur aja lebih dahulu, besok baru cerita sama kak Meta apa yang udah terjadi.” Meta membaringkan Vina ke tempat tidur.

“ternyata Vina begitu cantik jika sedang tidur, wajahnya yang polos begitu sayup, DEG,… Tuhan… kenapa ini??? Kenapa hatiku jadi begini??? Apa yang aku pikirkan??? Dia itu adikmu Meta.”

Meta begitu terkesima  dengan keanggunan wajah Vina ketika tidur. Entah ke ajaiban atau apa, melihat Vina sepertinya naluri nya sebagai seorang gay tiba-tiba saja hilang. Meta segera menyelimuti Vina dan mengecup kening Vina lembut lalu segera pergi. Meta takut sesuatu yang mulai bergejolak di hatinya akan tambah parah.

<<<baby let me go… oh… let me go>>>

“ya halo??”

“halo say…” suara cowok di seberang sana.

“Ibnu??? Lebih baik kita sampai disini, gue nggak mau bikin adik gue sedih!!!” ucap Meta to the point.

“t-tapi Met??”

Plip… belum selesai Ibnu bicara, Meta sudah mematikan hp nya.

“SHIT” suara kutukan Ibnu ke pada Meta.

@@@@@

@ morning

“jadi apa yang sebenarnya terjadi???” Tanya Meta kepada Vina sambil mengoleskan mentega pada rotinya.

“bla… bla… bla…” Vina mulai menceritakan semuanya dari panjang, lebar dan tinggi.

“soal itu… Anam!!! Kak Meta lebih setuju dengan kak Teguh, kamu jangan lagi berhubungan dengan Anam.”

“tapi kenapa kak???” Meta langsung beranjak berdiri dan mengambil sebuah amplop coklat di dalam laci.

“apa ini kak???” Vina mulai membuka dan terkaget oleh isi yang di dapatinya. Meta sekarang sedang duduk di mulut meja depan Vina.

“itu adalah foto-foto kebejatan Anam. Selama ini kakak menyelidikinya dan akhirnya menemukan fakta itu. Anam adalah seorang pemain dalam film vcd-vcd porno, dia juga pecandu narkoba tingkat akud. Dan vina tahu yang semalam itu??” pertanyaan Meta dibalas dengan anggukan oleh Vina.

“dia adalah Ibnu, kakak Anam. Demi mendapatkan informasi tentang Anam, kakak harus behubungan degan Ibnu yang notabene nya adalah seorang gay, lama kelamaan kakak sendiri nggak tahu kenapa kakak jadi terjerumus dalam dunia gay, tapi Vina tenang saja, semalam kakak udah mutusin Ibnu, dan kakak janji, kakak akan berubah demi Vina” jelas Meta.

“maafin Vina juga kak.!” mendengar penjelasan itu, Vina seraya dengan tak sadar langsung memeluk Meta. Tidak tahu ada aliran magic apa, tiba-tiba keduanya mulai sedikit canggung.

“m-maaf” ucap Vina grogi.

“oia.. soal kak Teguh, biar kakak yang urus.! Vina., besok lusa adalah tahun baru, kakak punya sesuatu untuk Vina. Ini adalah tiket penerbangan ke paris, lebih baik Vina ikut kakak  pergi liburan ke sana. Di sana ada kakak kandung kak Meta, namanya Kiki. Vina bisa menginap disana.” Bujuk Meta.

“Jadi??? Kak Meta udah berhasil nemuin keluarga kandung kak Meta???” Vina merasa senang dengan berita itu, dan dibalas anggukan oleh Meta.

@@@@@

“Nam, sebentar lagi rencana kita bakalan sukses, si Teguh udah ngelamar gue. Dan gue bakalan nguasain semua hartannya.”

“inget loe!.. jangan lupa bagi ke gue, gue udah rela bonyok-bonyokan kemaren demi loe!”

“beres!, tapi berhasilkan?? Akhirnya Vina pergi jugakan?? Padahal jelas-jelas kita yang udah ngabisin kartu kredit Vina, hahahaha….” Tawa Sasya begitu menggema. Tanpa Sasya ketahui, Teguh sudah berada di depan kamar Sasya dan mendengar semua pembicaraan Sasya dan Anam lewat telephone.

“jadi selama ini kamu bohongin aku sya??”

Brakk…. Sasya kaget dan segera mematikan Hp nya.

“k-kak T-Teguh??” Sasya gelagapan seperti kucing yang udah tertangkap basah mencuri.

“Jadi bener? Selama ini loe yang udah ngfitnah Vina???” Teguh mencengkeram kedua pipi Sasya dengan tangan kanannya.

“apa maksud kakak???”

“loe nggak usah nyoba buat ngalihin pembicaraan! Gue udah denger semuanya.” Teguh semakin geram. Ia segera merogoh saku celananya untuk  mencari handphone nya. Ternyata teguh sedang menghubungi polisi.

“maafin Sasya kak. Jangan laporin Sasya ke polisi.?”

“loe piker loe pantes dimaafin setelah apa yang selama ini loe lakuin??? Biar polisi sama tuhan yang ngehukum loe!”

 

Akhirnya…  Sasya dan Anam di penjara atas laporan Teguh tentang penipuan. Hukuman Anam lebih diberatkan lagi dengan laporan dari pihak lain yaitu Meta atas tuduhan Narkotika dan Pornografi. Teguh menyesal dengan semua yag ia lakukan kepada Vina. Teguh pun berinisiatif untuk pergi ke rumah Meta menjemput Vina. Namun tak ada hasil. Nihil, Vina sudah pergi ke paris hari itu, yaitu hari dimana malamnya adalah malam pergantian tahun.

@@@@@

“permisi…”

“iya.. anda siapa ya???” jawab Yunita, pembantu Meta.

“Vinanya ada??”

“oh .. non Vina sudah pergi tuan??”

“pergi kemana???”

“paris, bersama tuan Meta, mungkin saat ini pesawatnya sudah take of.,”

“ ya sudah terimakasih ya mbak, permisi!” Teguh hanya mampu menundukan kepala, menyesal dengan semua kesalahan. Meratapi keterlambatannya selama ini. Menysesal telah percaya dengan semua omong kosong Sasya.

“eh tunggu tuan!!” cegah Yunita.

“Apa tuan yang bernama Teguh??”

“iya itu saya” jawab Teguh lemas.

“ini tuan tadi non Vina nitip surat suruh ngasih ke tuan jika suatu saat tuan datang ke rumah ini!”

“oh iya… terima kasih ya mbak.”

“iya sama-sama.”

@@@@@

Dear kak Teguh…

Hai kak^^ apa kakak mencari Vina?? Mungkin saat kakak baca surat ini Vina udah nggak di Indonesia. Percayalah kak, Vina udah nggak benci sama kak Teguh. Vina juga tahu semua yang terjadi sama kak Teguh. Tapi biarkan kali ini Vina yang memilih, Vina akan tinggal di Paris bersama kak Meta. Kakak baik-baik disana, Vina pasti akan selalu merindukan kakak.!

“Vina…” Teguh menangis penuh penyesalan. Saat ini ia berada di pantai dimana Vina sering mengunjunginya. Suasananya begitu ramai karna malam ini adalah malam pergantian tahun.

“maafin kakak..” lirihnya.

Prok..prok…prok… terdegar sebilah suara mulai mendekat.

“gue nggak nyangka cowok kaya loe bisa nangis juga kak.” Suara itu membuyarkan tangisan Teguh. Meta terus bertepuk tangan dari jarak yang tidak begitu jauh. Teguh langsung menghampirinya.,

“mana adik gue???” Tanya Teguh sambil mencengkeram krah baju Meta.

“kakak!!!” bentak seseorang dari belakang tubuh Teguh.

“Vina…” Teguh tercengang dan langsung menghambur untuk memeluk adiknya itu.

“maafin kakak!” ucap Teguh penuh penyesalan.

“jangan pernah kak Teguh sakitin pacar Vina lagi!”

“apa maksud kamu???” Teguh melepaskan pelukannya kemudian memegang bahu Vina. Vina berjalan menghampiri Meta dan mgengaitkan lengannya ke lengan Meta. Teguh menghampiri mereka berdua dengan tatapan heran.

“kak Meta sekarang adalah pacar Vina, bukankah kakak bilang kalo kita nggak ada hubungan darah?? Jadi boleh dong Vina sama kak Meta?”

“kak Teguh, maafin gue dengan semua kesalahan gue selama ini!” Meta mulai membuang semua ego yang ia miliki untuk meminta maaf kepada Teguh. Mendengar semua itu Teguh langsung memeluk kedua adiknya.

“iya gue, maafin loe! Gue juga minta maaf udah bikin bonyok loe, udah bikin banyak kesalahan sama loe. Trus??? Bukankah kalian katanya ke Paris??”

“ itu karena adik kakak yang satu ini minta untuk tetap di Indonesia, dan ngajak Gue kesini. Vina yakin, kakak pasti ada di sini dan ternyata benar.” Jelas Meta.

Duar… tuar… door… suara kembang api mulai menggelegar di langit menandakan bahwa pergantian tahun telah tiba. Teguh tersenyum sumringah. Seakan-akan beban hatinya telah menghilang.

“gue restuin kalian berdua.” Ucap teguh sambil menautkan tangan Vina dan Tangan teguh.

“Makasih kak” ucap Vina penuh senyum. Vina dan Meta kini saling menatap dan….

“HAPPY NEW YAR KAK TEGUHHH…!!!” ucap Vina dan Meta berbarengan.

Teguh, Vina dan Meta kini berdiri menghadap pantai sembari menatap langit yang penuh kembang api.

Keegoisan seseorang memang menyakitkan. Tapi percayalah se-egoisnya seseorang, dia pasti masih punya sebongkah kasih sayang untuk kita.

 

END

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s